Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta|15-19 Juli, 2026
INACRAFT History - The Collective Vision: Traditional Indonesian craft parade opening ceremony celebrating heritage and craftsmanship

INACRAFT
History

Awal Mula
Perjalanan

A Legacy Born from Craftsmanship and Purpose

INACRAFT berawal dari sebuah visi yang sederhana namun bermakna: mengangkat martabat kriya Indonesia melalui peningkatan kesejahteraan para perajin dan pelaku usaha kerajinan. Gagasan ini lahir dari pemikiran para tokoh ASEPHI, di antaranya almarhum Rudy Lengkong, almarhum H. Sjahroel Sjamsoedin, almarhum Sukartono, Thamrin Bustami, Bramantyo W., dan Hariman T. Zagloel, yang memandang kriya bukan hanya sekadar produk, melainkan warisan budaya yang layak diberi ruang terhormat di panggung nasional dan internasional. Sejak kelahirannya, INACRAFT tumbuh sebagai perayaan nilai, dedikasi, dan keahlian tangan-tangan Nusantara yang menjadi jembatan antara tradisi, kreativitas, dan masa depan industri kriya Indonesia.

Guardians of Technique

ASEPHI

The Foundation Behind Indonesia's Craft Excellence

Didirikan pada 5 April 1975, ASEPHI (Asosiasi Eksportir dan Produsen Kerajinan Tangan Indonesia) hadir sebagai wadah yang menghimpun produsen dan eksportir kriya Indonesia dalam satu semangat kolektif. ASEPHI lahir untuk mengakomodasi aspirasi para perajin dan pengusaha kriya, sekaligus menumbuhkan kemandirian dan profesionalisme dalam membangun industri kerajinan yang berdaya saing. Melalui INACRAFT sebagai agenda tahunan unggulan, ASEPHI terus memainkan peran strategis dalam memperkuat ekosistem kriya nasional dengan terus mendorong pertumbuhan usaha, memperluas akses pasar, dan mendukung pembangunan ekonomi Indonesia berbasis budaya dan kreativitas.

The Beginning of a
Necessary Change

INACRAFT History - The Standard of Excellence: Cultural performance and traditional craft parade showcasing Indonesian craftsmanship excellence

Lahirnya INACRAFT tidak terlepas dari realitas pahit yang dihadapi para pekerja kriya Indonesia. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh almarhum Drs. H. Sjahroel Syamsudin saat menjabat sebagai Konsultan Nasional Indonesia untuk International Trade Center (ITC) di Jenewa, dan dipublikasikan oleh ITC pada tahun 2001, tercatat bahwa upah terendah pekerja di sektor kerajinan hanya sebesar satu dolar Amerika Serikat per hari. Sebuah angka yang mencerminkan ketimpangan mendalam bagi bangsa yang telah merdeka sejak 1945.

Fakta tersebut menjadi pengingat bahwa kekayaan budaya dan keahlian tangan Nusantara belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kesejahteraan para pelakunya. Dengan tata kelola yang tepat, sektor kriya sesungguhnya memiliki potensi untuk memberikan kehidupan yang lebih layak dan bermartabat bagi mereka yang menjaga tradisi ini tetap hidup.

A Vision to Bring
Indonesian Craft to the World

Berangkat dari kesadaran tersebut, tumbuhlah sebuah visi bersama, bahwa kriya Indonesia membutuhkan panggung yang setara dengan nilainya. Dewan Direksi ASEPHI kemudian menyepakati satu langkah strategis: Indonesia harus memiliki pameran kerajinan bertaraf internasional sebagai medium penguatan industri, perluasan pasar, dan peningkatan kesejahteraan pelaku kriya.

Para penggagas ini meyakini bahwa di balik kekayaan budaya Indonesia, tersimpan potensi besar yang belum sepenuhnya terangkat. INACRAFT pun lahir sebagai upaya untuk menghadirkan kriya Indonesia ke hadapan dunia, tidak hanya sebagai produk, tetapi sebagai identitas, nilai, dan kekuatan ekonomi berbasis budaya yang dimiliki Bangsa Indonesia.

Guardians of Technique
Future Texture
Regenerating Culture

A Living Impact for
Indonesian Artisans

Seiring waktu, INACRAFT tumbuh menjadi ruang yang dinantikan. Tidak hanya oleh para perajin dan pelaku usaha kriya, tetapi juga oleh buyer internasional serta para pecinta kerajinan dari berbagai belahan dunia. Kehadirannya berkontribusi nyata terhadap peningkatan nilai ekspor kriya Indonesia.

Ketangguhan ini terbukti ketika krisis ekonomi melanda. Di saat banyak sektor melemah, industri kriya tetap bertahan, menjaga roda usaha tetap berputar dan memberikan kontribusi positif bagi perekonomian nasional. Dari karya yang lahir di tangan-tangan terampil, kriya Indonesia menjelma menjadi salah satu pilar ekonomi berbasis budaya yang terus hidup dan berkembang hingga saat ini.

From Trade Exhibition
to Cultural Festival

Memasuki babak baru, INACRAFT tidak lagi sekadar hadir sebagai pameran dagang, tetapi bertransformasi menjadi sebuah festival kriya yang merayakan lebih dari sekadar transaksi. INACRAFT berkembang menjadi ruang perjumpaan antara tradisi dan inovasi, antara perajin, desainer, pelaku industri, dan publik yang lebih luas.

Transformasi ini menegaskan peran INACRAFT sebagai platform yang menghubungkan nilai budaya dengan pengalaman, kolaborasi, dan ekosistem kreatif yang berkelanjutan. Dari panggung pameran menuju perayaan budaya, INACRAFT terus bergerak menjaga warisan, memperkuat industri, dan membuka jalan bagi masa depan kriya Indonesia.

YOGYAKARTA
A Living Heritage, A Cultural Journey

Yogyakarta bukan sekadar kota, melainkan ruang hidup bagi tradisi yang menurun dari generasi ke generasi. Yogyakarta memancarkan harmoni yang hangat dari kekayaan alam dan budayanya. Tradisi turun temurun, menyatu dengan zaman, dan mengalir dalam hidup masyarakat yang menjaga nilai dengan ketenangan dan kebijaksanaan.

Sebagai rumah bagi para perajin dan komunitas kriya, Yogyakarta menawarkan lingkungan yang otentik bagi tumbuhnya karya berbasis budaya. Dengan alam sebagai latarnya, dengan budaya sebagai jiwanya, INACRAFT Festival menemukan tempat yang tepat untuk menghadirkan kriya Indonesia sebagai perjalanan rasa, cerita, dan penuh makna.